Memang bodoh jika kita berkata “cinta tak harus selalu miliki..” memang tidak mungkin. karena itu tidak logis.
Ardan masih mengetik sebuah tugas di laptop barunya, tidak ada yang terlihat isitimewa darinya. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota Depok itu mengenyitkan dahinya. Matanya nanar memandang layar laptop yang telah berjam-jam ia gunakan. Lalu Fadli tiba-tiba menyeletuk Ardan yang sedang “autis”.
“hei dan”
“kenapa li?”matanya tetap ke layar laptop.
“makan yuk dan !! “
“kagak ah, guelagi ribet nih masih urusan tugas, besokgue presentasi”
“iya iya deh” kekecewaan fadli muncul
“iya li, sorry ye” ..
di jamnya sudah menunjukkan pukul 14.00, dan dia baru sadar kalau dia belum makan sama sekali. Perutnya sudah keroncongan meminta jatah makanan dari si empunya. Dirinya kini menutup layar laptop kemudian berjalan ke pondok cina untuk mencari makan.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan dina yang sedang berjalan dengan teman-temannya. “
“Ehh din !! ” seru ardan semangat.
“iya dan..kamu mau kemana?” suara dina datar
“aku mau ke pocin , nyari makanan.. ikut yuk? udah makan belum?”
“udah kok dan… aku mau ke kost-an dulu ya dan..aku lagi capek”
“oke oke din… aku duluan ya..babaay”
“iya dan….” jawab dina “datar” lagi..
Ardan nampaknya sangat senang dengan pertemuan itu, dia jadi sering tertawa sendiri bila mengingat kejadian tersebut. Entah mengapa , ada terlintas dalam pikirannya kalau ia menyukai Dina..
Ardan kembali berjalan ke pocin, sambilberjalan.. dia memikirkan seseorang diluar sana, seseorang yang masih ia cintai dalam hatinya. Seseorang yang menjadi tambatan hatiya dari 1,5 tahun hingga saat ini. Seseorang yang terpisah sejauh sekitar 500an lebih kilometer, membentang Jakarta-Jogjakarta yang panjag dan berkelok jalannya. Dan nampaknya, jalan untuk menuju yang di Jogja itu juga “berkelok”.
Ardan menghela nafas dalam-dalam, dia lantas mengambil batu di sekitar danau kenanga kemudian ia melemparkannya jauh-jauh. “ahh…mengapa jadi sentimental begini ..” gumamnya.
Ardan tahu, bahwa di tempat ini , dia mencoba untuk mencari “dunia baru”. Dunia yang telah membawa dengan aura baru, suasana baru. Ardan tahu, bahwa tak ada orang yang mengetahui kisahnya yang terdahulu. Tak semua orang mengetahui, bahwa selama ini senyum yang selalu ia pancarkan saat bersana teman-temannya ialah senyum dengan beban yang begitu berat, yang ia sendiri yang memikulnya. Senyum yang selalu diikuti tangisan yang selalu menjerit dalam hatinya, tangisan yang tak pernah terdengar oleh siapapun, hingga akhirnya menguap begitu saja.
Sampai di Pocin, ia memesan nasi goreng kesukaannya, nasi goreng spesial dengan harga yang “spesial” pula. Harga 6000 sudah termasuk minum air putih telah mengenyangkan perutnya yang sudah “kelaparan”. Setelah makan, dia langsung menuju halte bikun, menaiki bis tersebut dan pulang ke kost-annya.
Sesampai dirumah, dirinya kembali teringat masa lalunya, saat ia masih di SMA nya, saat ia masih bersama sahabat-sahabatnya, dan saat ia masih bersamanya. Ardan tak tahu, mengapa ia menjadi larut dalam flashback ini,yang membawanya ia ke sebuah kenangan yang terindah.
Satu tahun yang lalu, dia masih bersama Rani. Mereka selalu belajar untuk mengejar ptn impian mereka selama ini, belajar ips. Ardan mempunyai kemampuan yang lebih dalam pelajaran sejarah, dan Rani mempunyai kemampuan yang lebih dalam pelajaran bahasa inggris, membuat mereka semakin dekat dan bersahabat.
Lama - kelamaan, mereka semakin dekat, bahkan ada yang menyangkanya bahwa telah mereka terikat. kamipun hanya tertawa mendengarnya. Ardan yang sensitif dan peka terhadap apa yang ia rasakan berkata “apa saya mencintai sahabat saya sendiri? ahh.. tidak mungkin… “
“bagaimana kalau saya suka sama dia, apakah dia tidak menjauh, atau malah semakin dekat?”
berbagai pertanyaan mengular dalam pikirannya, yang tak mampu ia bendung lagi. Kemudian, keluarlah sebuah perkataan jujur dari dalam hatinya, “saya telah jatuh cinta sama rani”.
November, Desember berlalu. Mulai nampak Rani menjaga jarak dengannya, tidak seperti biasanya dia menolak ajakan Ardan untuk shalat Dhuha bareng. tidak seperti biasanya, dia selalu menghindar jika saya mengajak ngobrol, Ardan mulai resah.
Januari berlalu, Ardan terasa semakin kaku. Hubungan yang selama ini ia bangun dengan Rani menjadi tidak jelas kemana arahnya. Memang, mereka terlihat biasa saja. Namun, bagi orang yang selama ini menjadi “ring 1″ mereka menyadari bahwa mereka tidak sedekat dulu lagi.
Ardan semakin galau, waktunya sudah tidak lama lagi di SMA ini, dan tidak lama lagi berpisah dengan dirinya. Entah mengapa, feeling Ardan berkata “pasti Rani beda univ denganku”. Saat itu, di Sekolah kami sedang heboh dengan acara buku tahunan sekolah, ujian praktek,ujian sekolah, dan ujian nasional. Teman-teman dari sekolah kami membentuk panitia wisuda , dan terpilihlah Rani sebagai ketuanya serta Gilang sebagai wakilnya. Dan, semenjak itu Ardan takk sadar dia telah “skakmat”.
Februari, Ardan masih terlihat tenang dalam menghadapi hubungan yang mungkin “rusak” dengan Rani. Ardan menganggap tak ada masalah, dan selesai dengan sendirinya. Ardan juga tak resah saat terpilihnya Rani dan Gilang sebagai ketua-wakil ketua wisuda. Namun, salah satu sahabatnya Dian memperingatkannya agar berhati-hati mungkin saja kalau Rani mungkin menyukai Gilang. Ardan masih tenang.
Perlahan-lahan, apa yang diperingatkan oleh Dian menjadi terbukti, dia mencoba mecari tahu dari beberapa pihak yang dekat dengan Rani dan jawabannyapun sama. Ardan tak habis nafas. Dia mencoba mengecek percakapan twitter, memang ada yang tak biasa dengan mereka. Keesokan harinya, dia sengaja datang ke kelas pagi-pagi,entah apa yang dilakukan olehnya sehingga ia menaiki kereta pertama dan sampai di sekolah jam 6.05. Ardan mencoba merenungi apa yang telah dikatakan Dian, dan semakin kalut. Tiba-tiba dari balik tangga, terdengar suara riuh-rendah , mereka sedang bercengkrama , canda tawa mengiringi mereka. Ardan kemudian berlari ke bagian pojok kelas, dan duduk di bangkunya sambil mendengarkan lagu kesukannya.
Setelah UN, Ardan mencoba menanyakan “kebenaran yang menjadi misteri”, dan jawabannya tetap sama. Ardan sudah yakin, bahwa Rani memang menyukai Gilang, dan sudah harusnya untuk tidak dipikirkan. tentang dia sudah pasrah apa yang terjadi tentang Rani dan Gilang. Memikirkan mereka membuatnya semakin terluka, jadi lebih baik tidak dipikirkan.
Ardan mengakhiri “flashback”nya, dia tidak memungkiri bahwa akan terjadi seperti ini. Dia memamndangi kaca kamarnya yang tidak begitu luas, sambil berkata…
“dan…dan..mungkin ini kalau mencintai sahabat sendiri” , dia menjadi kelu terhadap dirinya. Tak ada yanng dapat dibanggakan dari dirinya, tak ada yang dapat mengobati lukanya selain dirinya sendiri, tetapi ia mengetahui bahwa cinta tidak pernah salah dan Rani telah mencetak sejarah dalam hatinya.
Lalu,pikiran Ardan melayang kepada Dina, ada keteduhan saat Ardan menatapnya. Gadis yang berkedurung, kurus, hidungnya cukup mancung, dan lucu. Mengapa lucu? ahh… dia tak tahu. Gadis keturunan sunda itu mungkin telah “mencubit” hatinya yang ingin ditemani sebagai kekasih. Namun, pikirannya masih “tersangkut” dengan Rani, bahwa di dalam hatinya dia masih mencintai Rani. masih mencintai. Ardan tak tahu kapan ia berhenti mencintai Rani, tetapi Ardan juga sadar bahwa terlalu banyak semak belukar untuk menggapai Rani, penuh onak dan duri yang tak mampu Ardan lewati. Bukan karena “kekuatan cinta”nya kurang, tetapi Rani telah menemukan apa yang ia cari. Ardan tak dapat memaksakan kehendaknya. Kalau benar ia mencintainya, maka ikhlaslah. Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Ardan.
Ardan mencoba mengambil nafas lagi,dia sadar bahwa ada orang layak untuk diperjuangkan sebagai kekasih. Biarlah Rani menjadi sahabatnya , dan membiarkan hati Ardan kosong. Ardan berharap, jika ada wanita yang mengisi hatinya kembali, adalah Dina dan tidak ada air mata kembali yang mengalir di hati Ardan.