Pemilihan Rektor UI dan Momentum bagi
Mahasiswa
Oleh : Akhmad Fatchan Mubin
Pemilihan Rektor sebentar lagi
dimulai dalam 2 bulan kedepan (Maret 2014), pemilihan ini diharapkan tidak
terjadi kekisruhan tentang status UI sebagai PTN atau PTN BH, dikarenakan
Statuta UI sudah disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu.
Pemilihan rektor ini diselenggarakan oleh MWA UI dan rektor dipilih oleh MWA UI
sebagaimana ada dalam tugas serta fungsi MWA UI yang menyebutkan : mengangkat
dan memberhentikan pimpinan universitas.
PILREK yang dimana rektor dipilih oleh suara anggota MWA UI
terbanyak menimbulkan tanda tanya bagi para mahasiswa. Misal, “kok MWA milih si
mr.X, udah tahu dia pernah diperiksa oleh KPK sebagai saksi.” Kecurigaan bisa
saja muncul yang membuat mahasiswa menjadi kecewa terhadap rektor yang dipilih
nanti.
Saya pernah berandai-andai jika statuta UI direvisi kemudian rektor
dipilih berasal dari sebuah pemilihan raya (pemira) yang memiliih rektor
tersebut ialah mahasiswanya langsung dan MWA UI sebagai fasilitator,
penyelenggara, dan mensahkan hasil dari Pemira rektor tersebut. Dimana hal
tersebut menjadi sangat transparan, karena apa yang diharapkan mahasiswa
terhadap rektor yang terpilih nanti menjadi sesuai.
Pertama, calon rektor mendaftar online di situs
pemilihanrektor.ui.ac.id , kemudian memverifikasi berkas yang dilakukan oleh
MWA UI yang dimana dapat menghasilkan dari Bakal Calon rektor (BaLon) menjadi
Calon rektor.
Setelah lulus verifikasi , calon rektor mempunyai waktu
kampanye ke masing-masing fakultas dengan fasilitas yang pantas dan layak
kampanye yang diberikan fakultas kepada calon rektor yang akan berkampanye
tersebut. Dengan syarat, saat calon rektor tersebut menyampaikan visi misinya
tidak mengganggu kegiatan perkuliahan sehingga masyarakat antusias (kuliah
diliburkan dalam waktu beberapa jam).
Kemudian setelah berkampanye ke semua fakultas yang ada di
UI, calon rektor tersebut melakukan debat visi misi di antara mereka dihadapan
seluruh Civa UI di Balairung UI. Lalu setelah debat kampanye, UI memasuki hari
tenang.
Saat hari H pengambilan suara, menggunakan sistem e-vote
seperti yang telah diselenggarakan oleh DPM UI dalam melaksanakan Pemira Ketua
BEM dan DPM UI. Semua Civa UI berhak
untuk memilih termasuk anggota MWA UI.
Setelah sistem mengumumkan sebuah hasil bahwa ada seseorang
yang memiliki suara terbanyak dan berhak menjadi rektor Universitas Indonesia.
Hasil tersebut disahkan oleh MWA UI serta MWA UI melaksanakan tugasnya yaitu
mengangkat dan memberhentikan pimpinan universitas.
Jika hal tersebut terjadi, maka terjadilah sebuah
keterbukaan antara rektor beserta
mahasiswa, antara janji kampanye yang telah/belum ditepati, visi/misi yang
menjadi sebuah kenyataan/tidak, sehingga terjadi suatu sistem checks and balance antara rektor dan
mahasiswa itu sendiri.
PILREK sendiri merupakan momentum bagi mahasiswa untuk
menyampaikan aspirasi melalui lembaga MWA UI UM, dimana MWA UI UM menjadi titik
sentral aspirasi antara mahasiswa dengan lembaga MWA UI. Seperti peningkatan
fasilitas (student centre), pembangunan gedung baru (RS UI, Gedung Fasilkom,
Gedung Vokasi,dst), transparasi penentuan uang kuliah dengan BOP-B (sebab
akibat mengapa si A mendapatkan 7,5 jt, di B dapat 5 juta, si C apat 4,5 juta),
transparasi dana kemahasiswaan, dan lain lain.
Saya sering kali bertanya,” kok UI sebagai penerima BOPTN
terbesar sekitar >200 Milyar rupiah pembangunan RS UI tersendat-sendat,
gedung Fasilkom baru yang disebelah fakultas MIPA terlihat seperti proyek yang “mangkrak”,
gedung vokasi yang dijanjikan oleh Pihak UI beberapa tahun lalu tidak kunjung
ada (dari janji 4 gedung di 2013 hanya 2 gedung yang ada hingga tahun 2014). Ada
apa denganmu UI ? Apakah ada pihak yang “menilep” beberapa rupiah dari dana
yang seharusnya sebagai pembangunan fasilitas malah masuk ke kantong mereka
sendiri? Dimana etika akademik dari sebuah individu yang belajar serta mengabdi
sekian belas/puluhan tahun di almamaternya sendiri? Semoga Tuhan dapat
mengampuni perbuatan segelintir pihak yang ingin menghambat perkembangan di
Universitas Indonesia.
Saya harap dengan rektor yang dipilih nanti oleh MWA UI dapat
menghasilkan seorang rektor berwatak “pemimpin” bukan “bos”, dapat melaksanakan
otonomi Perguruan Tinggi yang diamanatkan dalam UU no.12 tahun 2012 tentang
Perguruan Tinggi, menggunakan hak otonomi PT untuk meningkatkan mutu akademik
maupun non akademik UI, membangun fasilitas yang sebelumnya telah terbengkalai,
terakhir dapat menerapkan prinsip transparasi keuangan di seluruh fakultas
sehingga tidak ada lagi saling curiga-mencurigai antara mahasiswa dengan
pimpinan universitas terutama penentuan dana BOP-B serta dana kemahasiswaan.
Itulah pandangan pribadi saya sebagai mahasiswa dalam menyikapi pilrek UI yang
dimulai tidak beberap lagi, semoga Pilrek UI 2014 ini dapat bejalan dengan
lancar.