Sabtu, 22 Maret 2014

Pemilihan Rektor UI dan Momentum bagi Mahasiswa

Pemilihan Rektor UI dan Momentum bagi Mahasiswa

Oleh : Akhmad Fatchan Mubin

Pemilihan Rektor sebentar lagi dimulai dalam 2 bulan kedepan (Maret 2014), pemilihan ini diharapkan tidak terjadi kekisruhan tentang status UI sebagai PTN atau PTN BH, dikarenakan Statuta UI sudah disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu. Pemilihan rektor ini diselenggarakan oleh MWA UI dan rektor dipilih oleh MWA UI sebagaimana ada dalam tugas serta fungsi MWA UI yang menyebutkan : mengangkat dan memberhentikan pimpinan universitas.  

PILREK yang dimana rektor dipilih oleh suara anggota MWA UI terbanyak menimbulkan tanda tanya bagi para mahasiswa. Misal, “kok MWA milih si mr.X, udah tahu dia pernah diperiksa oleh KPK sebagai saksi.” Kecurigaan bisa saja muncul yang membuat mahasiswa menjadi kecewa terhadap rektor yang dipilih nanti.
Saya pernah berandai-andai jika statuta UI direvisi kemudian rektor dipilih berasal dari sebuah pemilihan raya (pemira) yang memiliih rektor tersebut ialah mahasiswanya langsung dan MWA UI sebagai fasilitator, penyelenggara, dan mensahkan hasil dari Pemira rektor tersebut. Dimana hal tersebut menjadi sangat transparan, karena apa yang diharapkan mahasiswa terhadap rektor yang terpilih nanti menjadi sesuai.
Pertama, calon rektor mendaftar online di situs pemilihanrektor.ui.ac.id , kemudian memverifikasi berkas yang dilakukan oleh MWA UI yang dimana dapat menghasilkan dari Bakal Calon rektor (BaLon) menjadi Calon rektor.

Setelah lulus verifikasi , calon rektor mempunyai waktu kampanye ke masing-masing fakultas dengan fasilitas yang pantas dan layak kampanye yang diberikan fakultas kepada calon rektor yang akan berkampanye tersebut. Dengan syarat, saat calon rektor tersebut menyampaikan visi misinya tidak mengganggu kegiatan perkuliahan sehingga masyarakat antusias (kuliah diliburkan dalam waktu beberapa jam).
Kemudian setelah berkampanye ke semua fakultas yang ada di UI, calon rektor tersebut melakukan debat visi misi di antara mereka dihadapan seluruh Civa UI di Balairung UI. Lalu setelah debat kampanye, UI memasuki hari tenang.

Saat hari H pengambilan suara, menggunakan sistem e-vote seperti yang telah diselenggarakan oleh DPM UI dalam melaksanakan Pemira Ketua BEM dan  DPM UI. Semua Civa UI berhak untuk memilih termasuk anggota MWA UI.

Setelah sistem mengumumkan sebuah hasil bahwa ada seseorang yang memiliki suara terbanyak dan berhak menjadi rektor Universitas Indonesia. Hasil tersebut disahkan oleh MWA UI serta MWA UI melaksanakan tugasnya yaitu mengangkat dan memberhentikan pimpinan universitas.

Jika hal tersebut terjadi, maka terjadilah sebuah keterbukaan  antara rektor beserta mahasiswa, antara janji kampanye yang telah/belum ditepati, visi/misi yang menjadi sebuah kenyataan/tidak, sehingga terjadi suatu sistem checks and balance antara rektor dan mahasiswa itu sendiri.

PILREK sendiri merupakan momentum bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi melalui lembaga MWA UI UM, dimana MWA UI UM menjadi titik sentral aspirasi antara mahasiswa dengan lembaga MWA UI. Seperti peningkatan fasilitas (student centre), pembangunan gedung baru (RS UI, Gedung Fasilkom, Gedung Vokasi,dst), transparasi penentuan uang kuliah dengan BOP-B (sebab akibat mengapa si A mendapatkan 7,5 jt, di B dapat 5 juta, si C apat 4,5 juta), transparasi dana kemahasiswaan, dan lain lain.
Saya sering kali bertanya,” kok UI sebagai penerima BOPTN terbesar sekitar >200 Milyar rupiah pembangunan RS UI tersendat-sendat, gedung Fasilkom baru yang disebelah fakultas MIPA terlihat seperti proyek yang “mangkrak”, gedung vokasi yang dijanjikan oleh Pihak UI beberapa tahun lalu tidak kunjung ada (dari janji 4 gedung di 2013 hanya 2 gedung yang ada hingga tahun 2014). Ada apa denganmu UI ? Apakah ada pihak yang “menilep” beberapa rupiah dari dana yang seharusnya sebagai pembangunan fasilitas malah masuk ke kantong mereka sendiri? Dimana etika akademik dari sebuah individu yang belajar serta mengabdi sekian belas/puluhan tahun di almamaternya sendiri? Semoga Tuhan dapat mengampuni perbuatan segelintir pihak yang ingin menghambat perkembangan di Universitas Indonesia.


Saya harap dengan rektor yang dipilih nanti oleh MWA UI dapat menghasilkan seorang rektor berwatak “pemimpin” bukan “bos”, dapat melaksanakan otonomi Perguruan Tinggi yang diamanatkan dalam UU no.12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, menggunakan hak otonomi PT untuk meningkatkan mutu akademik maupun non akademik UI, membangun fasilitas yang sebelumnya telah terbengkalai, terakhir dapat menerapkan prinsip transparasi keuangan di seluruh fakultas sehingga tidak ada lagi saling curiga-mencurigai antara mahasiswa dengan pimpinan universitas terutama penentuan dana BOP-B serta dana kemahasiswaan. Itulah pandangan pribadi saya sebagai mahasiswa dalam menyikapi pilrek UI yang dimulai tidak beberap lagi, semoga Pilrek UI 2014 ini dapat bejalan dengan lancar.