Minggu, 27 April 2014

Tetap Sejahtera di Usia Pensiun


Di  tahun 2013 lalu, saya  sering melewatkan sesuatu yang sesuatu saat akan terjadi nanti,  mempunyai pola pikir jangka pendek, serta tidak memikirkan hal yang bersifat “masa depan” dan sering terjerembab oleh lifestyle yang hedonisme, narsisme, serta apatis.  Dimulai dari pembelian gadget terbaru, laptop harus bermerek dengan buah apel,  pesta ,hura hura, dst. Perilaku tersebut menjadi cerminan saya dan remaja pada umumnya di masa sekarang ini.
Namun setelah tahun 2014 ini, saya mulai sadar bahwa saya selalu pribadi saya sendiri wajib untuk mempersiapkan perencanaan keuangan dalam jangka waktu yang sangat panjang, untuk mengantisipasi terjadinya kerugian keuangan di masa depan. Awal saya mulai sadar saat saya mempelajari mata kuliah “Pengantar Dana Pensiun”. Di mata kuliah tersebut saya diajarkan tentang pensiun,  dana pensiun, perencaanaan pensiun, serta macam-macam jenis, lembaga, dan program pensiun.
Saat itu saya masih berpikir “ah ngapain coba gue ngurusin pensiun dari sekarang, padahal kan bisa entar –entar aja pas kerja, lagian masih ngandelin orang tua”. Seiring berjalannya waktu, saat saya belajar pada mata kulaih Pengantar Dana Pensiun tersebut, dosen saya sering bercerita bahwa banyak orang Indonesia saat ini tidak siap untuk pensiun, masyarakat kita saat ini hanya bersiap untuk “alih profesi” saja, bukan untuk “pensiun”. Contohnya, saat seseorang memasuki usia pensiun mereka menjadi peternak, atau pengusaha properti, yang menurut dosen saya itu bukan sebuah masa “pensiun”, hanya “alih profesi” semata dari karyawan menjadi peternak atau pengusaha properti.   Semenjak  dosen saya menceritakan hal tersebut , saya sadar bahwa pensiun itu harus dilaksanakan sejak dini, tidak harus menunggu kita kerja terlebih dahulu, hingga perencanaan pensiun di masa saat ini menjadi sangat penting.
Mengapa kita sebagai anak muda harus mempersiapkan dana pensiun seawal mungkin? Pertanyaan itu saya coba jawab dengan dua alasan berikut.
Pertama ialah dengan kita merencanakan dana pensiun sejak usia dini, kita dapat menggapai tujuan perencanaan keuangan kita saat beberapa puluh tahun lagi, misalnya kita mempunyai target untuk mendapatkan dana pensiun bulanan sebesar 5 juta rupiah sampai usia kita berakhir, kemudian dengan kita mempersiapkan dana pensiun disaat kita umur 30 (usia bekerja) dengan usia 19 tahun (usia belum bekerja) akan terasa berat dan sulit. Ibaratnya, kita sedang bersepeda kemudian menaiki tanjakan, bila kita menyiapkan dana pensiun sejak usia 19 tahun maka tanjakan tersebut terasa landai, namun bila kita menyiapkan dana pensiun sejak usia 30 tahun maka tanjakan tersebut akan terasa curam.
Alasan kedua ialah, dengan kita mempersiapkan dana pensiun sejak dini , secara tidak langsung melatih kita untuk belajar membelanjakan uang secara hemat serta realistis. Saya sebelum mendapat pencerahan dari dosen saya, sering kali “membuang” uang utnuk membeli hal yang tidak perlu seperti makanan, serta beli sesuatu untuk kepuasan sesaat saja.  Namun saat ini , hingga  tulisan ini ditulis saya lebih mampu untuk membelanjakan uang saya serta dapat memprirotitaskan kebutuhan yang akan saya penuhi.
Kini saya mempunyai tabungan dana pensiun BNI SIMPONI  , yang saya bisa jadikan “pegangan” saat memasuki usia pensiun saya nanti. Dengan Tabungan BNI SIMPONI saya berharap, saya mendapat manfaat yang saya inginkan disamping usaha saya menyisihkan uang tersebut. Cara membuat tabungan BNI SIMPONI sangat mudah, dengan bermodalkan fotokopi KTP, KK, Kartu ATM, dan Buku Tabungan BNI TAPLUS MUDA saya dapat mendaftarkan diri di DPLK BNI.


Kita sebagai remaja yang mempunyai pola pikir jangka panjang, sebaiknya memikirkan diri kita saat masa pensiun nanti, dimana kita kehilangan sebagian pendapatan kita dibanding saat kita masih bekerja. Dengan kita menabung dana pensiun sejak awal, kita tidak terlalu merasakan “efek” dari kehilangan sebagian pendapatan tersebut. Menjadi sangat riskan bila seseorang yang memasuki usia pensiun tidak memiliki tabungan pensiun atau hanya mengandalkan uang pensiun dari tempat ia bekerja sebelumnya, hal ini sangat riskan dan menjadi suatu ironi dalam masyarakat kita. Dengan mendaftarkan diri kita ke DPLK BNI atau bank-bank dan asuransi lainnya, kita setidaknya mendapat “dana tambahan” disamping uang pensiun dari tempat kita bekerja sebelumnya.  
Hal ini membuat kita tidak takut dalam memasuki usia pensiun nanti, karena ada tabungan yang kita miliki. J  Semoga tulisan dapat menginspirasi kita semua untuk mempersiapkan dana pensiun sejak muda. Daftarkan diri anda di DPLK BNI, dengan tabungan BNI SIMPONI yang menjanjikan manfaat pensiun :   http://bit.ly/BNI_Simponi .



Berakhir dengan.......

Memang bodoh jika kita berkata “cinta tak harus selalu miliki..”  memang tidak mungkin. karena itu tidak logis.



Ardan masih mengetik sebuah tugas di laptop barunya, tidak ada yang terlihat isitimewa darinya. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota Depok itu mengenyitkan dahinya. Matanya nanar memandang layar laptop yang telah berjam-jam ia gunakan. Lalu Fadli tiba-tiba menyeletuk Ardan yang sedang “autis”.
“hei dan”
“kenapa li?”matanya tetap ke layar laptop.
“makan yuk dan !! “
“kagak ah, guelagi ribet nih masih urusan tugas, besokgue presentasi”
“iya iya deh” kekecewaan fadli muncul
“iya li, sorry ye” ..
di jamnya sudah menunjukkan pukul 14.00, dan dia baru sadar kalau dia belum makan sama sekali. Perutnya sudah keroncongan meminta jatah makanan dari si empunya. Dirinya kini menutup layar laptop kemudian berjalan ke pondok cina untuk mencari makan.
Di tengah jalan, dia bertemu dengan dina yang sedang berjalan dengan teman-temannya. “
“Ehh din !! ” seru ardan semangat.
“iya dan..kamu mau kemana?” suara dina datar
“aku mau ke pocin , nyari makanan.. ikut yuk? udah makan belum?”
“udah kok dan… aku mau ke kost-an dulu ya dan..aku lagi capek”
“oke oke din… aku duluan ya..babaay”
“iya dan….”  jawab dina “datar” lagi..
Ardan nampaknya sangat senang dengan pertemuan itu, dia jadi sering tertawa sendiri bila mengingat kejadian tersebut. Entah mengapa , ada terlintas dalam pikirannya kalau ia menyukai Dina..
Ardan kembali berjalan ke pocin, sambilberjalan.. dia memikirkan seseorang diluar sana, seseorang yang masih ia cintai dalam hatinya. Seseorang yang menjadi tambatan hatiya dari 1,5 tahun hingga saat ini. Seseorang yang terpisah sejauh sekitar 500an lebih kilometer, membentang Jakarta-Jogjakarta yang panjag dan berkelok jalannya. Dan nampaknya, jalan  untuk menuju yang di Jogja itu juga “berkelok”.
Ardan menghela nafas dalam-dalam, dia lantas mengambil batu di sekitar danau kenanga kemudian ia melemparkannya jauh-jauh. “ahh…mengapa jadi sentimental begini ..” gumamnya.
Ardan tahu, bahwa di tempat ini , dia mencoba untuk mencari “dunia baru”. Dunia yang telah membawa dengan aura baru, suasana baru. Ardan tahu, bahwa tak ada orang yang mengetahui kisahnya yang terdahulu. Tak semua orang mengetahui, bahwa selama ini senyum yang selalu ia pancarkan saat bersana teman-temannya ialah senyum dengan beban yang begitu berat, yang ia sendiri yang memikulnya. Senyum yang selalu diikuti tangisan yang selalu menjerit dalam hatinya, tangisan yang tak pernah terdengar oleh siapapun, hingga akhirnya menguap begitu saja.
Sampai di Pocin, ia memesan nasi goreng kesukaannya, nasi goreng spesial dengan harga yang “spesial” pula. Harga 6000 sudah termasuk minum air putih telah mengenyangkan perutnya yang sudah “kelaparan”. Setelah makan, dia langsung menuju halte bikun, menaiki bis tersebut dan pulang ke kost-annya.
Sesampai dirumah, dirinya kembali teringat masa lalunya, saat ia masih di SMA nya, saat ia masih bersama sahabat-sahabatnya, dan saat ia masih bersamanya. Ardan tak tahu, mengapa ia menjadi larut dalam flashback ini,yang membawanya ia ke sebuah kenangan yang terindah.
Satu tahun yang lalu, dia masih bersama Rani. Mereka selalu belajar untuk mengejar ptn impian mereka selama ini, belajar ips. Ardan mempunyai kemampuan yang lebih dalam pelajaran sejarah, dan Rani mempunyai kemampuan yang lebih dalam pelajaran bahasa inggris, membuat mereka semakin dekat dan bersahabat.
Lama - kelamaan, mereka semakin dekat, bahkan ada yang menyangkanya bahwa telah mereka terikat. kamipun hanya tertawa mendengarnya. Ardan yang sensitif dan peka terhadap apa yang ia rasakan berkata “apa saya mencintai sahabat saya sendiri? ahh.. tidak mungkin… “
“bagaimana kalau saya suka sama dia, apakah dia tidak menjauh, atau malah semakin dekat?”
berbagai pertanyaan mengular dalam pikirannya, yang tak mampu ia bendung lagi. Kemudian, keluarlah sebuah perkataan jujur dari dalam hatinya, “saya telah jatuh cinta sama rani”.
November, Desember berlalu. Mulai nampak Rani menjaga jarak dengannya, tidak seperti biasanya dia menolak ajakan Ardan untuk shalat Dhuha bareng. tidak seperti biasanya, dia selalu menghindar jika saya mengajak ngobrol, Ardan mulai resah.
Januari berlalu, Ardan terasa semakin kaku. Hubungan yang selama ini ia bangun dengan Rani menjadi tidak jelas kemana arahnya. Memang, mereka terlihat biasa saja. Namun, bagi orang yang selama ini menjadi “ring 1″ mereka menyadari bahwa mereka tidak sedekat dulu lagi.
Ardan semakin galau, waktunya sudah tidak lama lagi di SMA ini, dan tidak lama lagi berpisah dengan dirinya. Entah mengapa, feeling Ardan berkata “pasti Rani beda univ denganku”. Saat itu, di Sekolah kami sedang heboh dengan acara buku tahunan sekolah, ujian praktek,ujian sekolah, dan ujian nasional. Teman-teman dari sekolah kami membentuk panitia wisuda , dan terpilihlah Rani sebagai ketuanya serta Gilang sebagai wakilnya. Dan, semenjak itu Ardan takk sadar dia telah “skakmat”.
Februari, Ardan masih terlihat tenang dalam menghadapi hubungan yang mungkin “rusak” dengan Rani. Ardan menganggap tak ada masalah, dan selesai dengan sendirinya. Ardan juga tak resah saat terpilihnya Rani dan Gilang sebagai ketua-wakil ketua wisuda. Namun, salah satu sahabatnya Dian memperingatkannya agar berhati-hati mungkin saja kalau Rani mungkin menyukai Gilang. Ardan masih tenang.
Perlahan-lahan, apa yang diperingatkan oleh Dian menjadi terbukti, dia mencoba mecari tahu dari beberapa pihak yang dekat dengan Rani dan jawabannyapun sama. Ardan tak  habis nafas. Dia mencoba mengecek percakapan twitter, memang ada yang tak biasa dengan mereka. Keesokan harinya, dia sengaja datang ke kelas pagi-pagi,entah apa yang dilakukan olehnya sehingga ia menaiki kereta pertama dan sampai di sekolah jam 6.05. Ardan mencoba merenungi apa yang telah dikatakan Dian, dan semakin kalut. Tiba-tiba dari balik tangga, terdengar suara riuh-rendah , mereka sedang bercengkrama , canda tawa  mengiringi mereka. Ardan kemudian berlari ke bagian pojok kelas, dan duduk di bangkunya sambil mendengarkan lagu kesukannya.
Setelah UN, Ardan mencoba menanyakan “kebenaran yang menjadi misteri”, dan jawabannya tetap sama. Ardan sudah yakin, bahwa Rani memang menyukai Gilang, dan sudah harusnya untuk  tidak dipikirkan. tentang  dia sudah pasrah apa yang terjadi tentang Rani dan Gilang. Memikirkan mereka membuatnya semakin terluka, jadi lebih baik tidak dipikirkan.
Ardan mengakhiri “flashback”nya, dia tidak memungkiri bahwa akan terjadi seperti ini. Dia memamndangi kaca kamarnya yang tidak begitu luas, sambil berkata…
“dan…dan..mungkin ini kalau mencintai sahabat sendiri” , dia menjadi kelu terhadap dirinya. Tak ada yanng dapat dibanggakan dari dirinya, tak ada yang dapat mengobati lukanya selain dirinya sendiri, tetapi ia mengetahui bahwa cinta tidak pernah salah dan Rani telah mencetak sejarah dalam hatinya.
Lalu,pikiran Ardan melayang kepada Dina, ada keteduhan saat Ardan menatapnya. Gadis yang berkedurung, kurus, hidungnya cukup mancung, dan lucu. Mengapa lucu? ahh… dia tak tahu. Gadis keturunan sunda itu mungkin telah “mencubit” hatinya yang ingin ditemani sebagai kekasih. Namun, pikirannya masih “tersangkut” dengan Rani, bahwa di dalam hatinya dia masih mencintai Rani. masih mencintai. Ardan tak tahu kapan ia berhenti mencintai Rani, tetapi Ardan juga sadar bahwa terlalu banyak semak belukar untuk menggapai Rani, penuh onak dan duri yang tak mampu Ardan lewati. Bukan karena “kekuatan cinta”nya kurang, tetapi Rani telah menemukan apa yang ia cari. Ardan tak dapat memaksakan kehendaknya. Kalau benar ia mencintainya, maka ikhlaslah. Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Ardan.
Ardan mencoba mengambil nafas lagi,dia sadar bahwa ada orang layak untuk diperjuangkan sebagai kekasih. Biarlah Rani menjadi sahabatnya , dan membiarkan hati Ardan kosong. Ardan berharap, jika ada wanita yang mengisi hatinya kembali, adalah Dina dan tidak ada air mata kembali yang mengalir di hati Ardan.